Rencana-Nya Dikara
Kesempatan belajar tiga tahun lebih di Auckland, New Zealand, merupakan sesuatu yang sangat saya syukuri. Tuhan mempercayakan pada saya kesempatan untuk belajar di luar negeri, berteman dengan orang asing, merasakan secara langsung pengalaman hidup di luar negeri dan masih banyak berkat lainnya. Dalam tiga tahun ini, saya mendapat pengetahuan yang sangat banyak dan bermanfaat. Namun, semua anugerah ini pernah saya mempersoalkan saat saya kembali ke Kupang, Indonesia.
Saya memasuki jenjang pendidikan SD satu tahun sebelum yang seharusnya, yaitu pada tahun 2012. Sejak itu, selama tiga tahun, saya belajar bersama mereka yang sebenarnya kakak-kakak kelas saya. Walaupun demikian, puji Tuhan saya dapat belajar dengan baik dan dapat mengikuti pelajaran tanpa masalah yang terlalu besar. Saat saya memasuki kelas 3 SD, semester genap saya mengikut ibu saya ke Auckland, New Zealand. Karena tahun ajaran di Indonesia berbeda dengan tahun ajaran di New Zealand, saya kembali belajar di kelas 3 SD, semester ganjil. Pada awalnya saya sempat bersungut karena ini berarti saya harus duduk pada jenjang kelas 3 SD selama satu tahun lebih. Namun, tanpa saya sadari pada waktu itu, ini sangat saya butuhkan karena saya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan segala sesuatu, mulai dari pelajaran, lingkungan, bahasa dan lainnya.
Tiga tahun berlalu dan sudah waktunya saya kembali ke Kupang, Indonesia. Pada saat itu, saya duduk di kelas 6, belum menyelesaikan semester ganjil di New Zealand. Ini pun sempat membuat saya marah karena saya tidak bisa mendapat foto kelas dan foto siswa pada tahun terakhir saya tinggal di sana sebagai kenangan terakhir. Namun, tanpa saya sadari pada waktu itu, ini saya butuhkan agar saya mendapat lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan dan pelajaran yang sangat berbeda di Kupang.
Setibanya saya di Kupang, saya diberikan dua pilihan yang cukup memberatkan saya. Pilihan yang pertama, saya tetap belajar bersama angkatan saya yang dulu, teman-teman yang sudah saya kenal tiga tahun lebih. Pilihan ini terdengar baik, tetapi sayangnya saya hanya duduk dan menyaksikan karena saya belum siap untuk mengikut ujian akhir bersama mereka. Sedangkan pilihan yang kedua adalah saya mengikut angkatan di bawah, angkatan yang sesuai dengan umur saya, tetapi tidak saya kenal sama sekali. Dengan memilih pilihan kedua ini, saya bisa beradaptasi dan memupuk pengetahuan saya sebagai bekal untuk ujian akhir saat saya kelas 6.
Walau dengan berat hati, saya memilih pilihan kedua. Saya susah bersosialisasi dan beban beradaptasi ditambah belajar dengan teman yang baru bukan hal yang sangat saya senangi. Walau begitu, saya tidak ingin menumpuk stres saya, melainkan belajar beradaptasi dengan pelajaran agar paling tidak, saya bisa melalui ujian akhir sekolah dasar dengan baik. Pada saat itu, saya mulai berpikir, mengapa saya harus disusahkan? Mengapa saya harus belajar sangat lama di luar negeri sehingga saat kembali ke tanah air, saya harus melalui begitu banyak cobaan? Mengapa sejak tiba di Auckland pun saya harus kembali ke semester ganjil kelas 3? Mengapa saya tidak bisa sama dengan teman-teman saya yang tidak perlu beradaptasi setiap tiga tahun? Apakah kesempatan belajar di luar negeri justru sesuatu yang sial?
Namun, tanpa saya sadari pada waktu itu, Tuhan sedang menjalankan rencana-Nya yang dikara. Dengan belajar selama tiga tahun di luar negeri, saya mendapat pengetahuan yang sangat luas. Saya mendapat kesempatan yang tidak bisa dialami semua orang. Saya sangat amat beruntung. Dengan kembali ke Kupang dan belajar satu angkatan di bawah, saya bisa bersama dengan angkatan yang seumuran dengan saya dan dapat melewati ujian akhir sekolah dasar dengan nilai yang sangat memuaskan. Dengan beradaptasi dan belajar, puji Tuhan saya dapat lolos seleksi siswa untuk memasuki SMP Lentera Harapan Kupang. Saya sangat amat bersyukur.
Sekarang, saya sedang menunggu hasil penjurusan dari SMA Dian Harapan Kupang. Ya, ternyata belum berakhir segala rancangan-Nya itu. Sudah penuh pasang surut perjalanan saya untuk masuk ke SMP yang baik, ditambah mendapat kesempatan tinggal di luar negeri, tetapi ini hanya awal dari cerita yang sudah Tuhan tuliskan bagi setiap pribadi. Cerita dikara yang sudah Dia rancang sebelum kita lahir di dunia, bahkan sebelum peristiwa penciptaan terjadi.
Karena SMP Lentera Harapan Kupang berada di dalam yayasan yang sama dengan SMA Dian Harapan Kupang, dan tentu karena semua ini sudah dirancang-Nya, saya merupakan salah satu siswa yang mendapat beasiswa ke SMA Dian Harapan Kupang. Entah bagaimana lanjutan dari cerita ini, tantangan apa saja yang akan saya lewati nanti. Hal yang saya tahu adalah semuanya sudah Tuhan rancang dengan sempurna. Kita tidak dalam posisi untuk bersungut-sungut akan apa yang terjadi, karena Tuhan Maha tahu dan Maha karya. Kita merupakan salah satu tokoh dalam cerita paling utama, cerita-Nya. Tugas kita adalah terus menjalani cerita yang Tuhan rancangkan ini dan selalu bersyukur atas segala sesuatu.
Comments
Post a Comment