Yang Tak Bersalah

Keluarga Anindia bukanlah yang terbaik. Anindia merupakan anak tunggal dan orangtuanya bermusuhan. Rumahnya sunyi sekali. Bukan karena dia anak tunggal, tetapi karena ayah dan ibunya tak pernah berbicara kepada satu sama lain. Mereka saling menghindari seakan-akan menganggap yang lain tidak ada. Suasana ini sudah berlangsung selama dua tahun. Anindia sudah terbiasa dengan kesunyian ini, sampai suatu hari... 

"Hah? Sonde apa-apa? Lu ada perhatikan dia atau sonde? Dia punya mental jelas-jelas mulai terganggu tu!" seru ibu Anindia kepada suaminya.

"Tak usah berlebihan. Sonde apa-apa. Sonde lama lagi dia akan sadar lalu semua sonde aneh-aneh lagi," ayahnya membalas. 

"Lu punya maksud apa hah? Lu santai lihat dia begitu?" teriak ibunya dengan suara meninggi.

"Iya, kenapa? Ini normal! Nanti tunggu saja. Lihat saja. Beta sonde pernah salah, lu tahu?" balas ayahnya, volume pun tak kalah hebat.

Anindia berbaring di tempat tidurnya. Pintu ditutup rapat. 

'Ada apa? Mengapa mereka berteriak? Bukankah seharusnya mereka saling mengabaikan? Kenapa mereka menyebut-nyebut namaku? Mentalku kenapa? Ada apa denganku?' pikirannya mulai berputar. 

Kepalanya pusing, penglihatannya buram, tertutup air mata. 

'Mengapa harus bertengkar? Apakah ini salahku?' lanjut kalbunya.

Malam itu, rumahnya terasa ramai sekali. Ramai dengan suara teriakan kian kemari dari kedua orangtuanya. Anindia tidak bisa tidur. Suasana hatinya yang haru biru membutuhkan kenyamanan. Saat itulah dia memikirkan sahabatnya. 'Maya!'

Anindia segera membuka HP-nya. Ia mencari kontak temannya dan mulai mengetik.

'Halo, Maya! Beta ganggu ko?'

Sambil menunggu respon temannya, Anindia berpikir, 'Ternyata, sudah beberapa hari aku belum bermain dengannya, bahkan bercerita lewat telpon pun sudah cukup lama...'

- DING! -

Mata Anindia kembali pada HP-nya. Senyum mulai mekar di wajahnya saat ia membaca pesan dari Maya.

'Malam, Anin. Son apa-apa, beta ada main-main HP sa :)'

Jari Anindia kembali mengetik.

'Oh, oke. Beta bosan e, hahaha...'

Notifikasi baru datang dari Maya lagi.

'Sama, Anin, aman-aman sa ko?'

Membaca teks ini sedikit mengejutkan Anindia. Ia sudah mulai melupakan suara yang menghantuinya sejak tadi sore. Ternyata kebisingan itu belum selesai. 

'Sonde, beta punya orang tua sonde tahu kenapa tapi ada teriak dari tadi. Ada singgung beta punya nama juga. Ini beta punya salah ko? Beta selama ini terbiasa dengan sonde dengar suara apa-apa di rumah, tiba-tiba keras begini beta kaget.'

'Oh, sonde apa-apa! Lu son bersalah aa... jangan pikir begitu >:( Biar bacarita dengan beta sa. Nanti kalau mengantuk kasih tahu e, biar tidur sama-sama :)'

Anindia kembali tersenyum. Dia sangat bersyukur memiliki teman sebaik Maya. Dia selalu ada untuk Anindia dalam senang maupun susah. Maya selalu tahu cara membantu Anindia melalui rintangan apapun. 

Demikian, malam itu mereka saling bercerita. Ada sangat banyak hal yang diceritakan mengingat sudah lama mereka bertemu. Yah, kebanyakan hanya Anindia yang bercerita. Maya hanya membalas dengan komentar-komentar singkat. Setelah beberapa jam, Anindia tak memiliki hal lain untuk diceritakan pada sahabatnya dan tak lama kemudian mereka setuju untuk pergi tidur. 

Saat Anindia bersiap untuk tidur, ia melihat boneka gajah di atas meja kecilnya, tempat Anindia dan Maya biasa bermain. 'Bukannya itu boneka Maya? Hahaha dasar pelupa.' Anindia mendekatinya dan membawa boneka tersebut ke dalam pelukannya. 'Karena sudah lama bertemu, biar aku pergi ke rumahnya besok untuk memberikannya boneka ini secara langsung! Lalu kita bisa bermain dan bercerita dan melakukan semua yang biasa kita lakukan!' pikirnya. 

Senyumnya melebar hanya dari memikirkannya. Ia sangat ingin bermain dengan Maya, khususnya saat situasi keluarganya seperti ini. Dia bisa melupakan yang sedih dan susah dan bersenang-senang saja dengan temannya. Ia bisa berlari dari realita yang ditawarkan dunia dengan bermain bersama Maya. Sekali lagi Anindia merasa bersyukur karena memiliki sahabat sepertinya. Dia tak tahu bagaimana ia akan menjalani hidupnya tanpa Maya.

***

Suara alarm berbunyi, mengindikasi Anindia bahwa pagi hari sudah tiba. Dengan mengantuk Anindia membuka matanya. Ia mengingat peristiwa yang terjadi semalam. Anindia sekejap bangun dari tempat tidur dan coba mendengar dengan perhatian penuh. 

'Syukurlah, tidak ada suara teriakan lagi' gumamnya. 

Anindia keluar dari ruang tidurnya dengan perlahan, masih waspada terhadap segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Kondisi ruang keluarga, tempat orangtuanya saling berteriak semalam terlihat berantakan sekali. Anindia menghela napas dan mulai membersihkan dan merapikan kekacauan tersebut. 

Sesudahnya, ia langsung pergi mandi dan bersiap ke rumah temannya. 'Akhirnya! Aku bisa bermain lagi dengan Maya!' pikirnya setelah meletakkan pesan yang dia tulis pada kertas kecil bahwa ia akan pergi bermain di rumah Maya. Anindia berjalan dengan penuh semangat ke rumah sahabatnya dengan boneka gajah di tangannya, senyum tak pernah hilang dari wajah. 

- TOK TOK TOK -

Suara ketukan pintu terdengar. Anindia yang sedang berdiri di luar pintu mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat. Tak lama kemudian, pintu terbuka mengekspos ayah Maya yang terlihat belum tidur selama satu minggu. Raut wajah Anindia berubah menjadi kaget. Namun, bukan hanya Anindia saja, ayah Maya pun terlihat sama kagetnya.

"Oh, Anindia. Mari, mari," ajak ayah Maya.

"Pagi Om, makasih," ujar Anindia.

Setelah keduanya masuk dan duduk di ruang tamu, ibu Maya datang dari halaman belakang, mukanya terlihat sedih. 

Anindia refleks berdiri, "Pagi Tanta, maaf mengganggu." katanya. 

Mata ibu Maya membesar seakan tak percaya bahwa Anindia, sahabat anak perempuan satu-satunya berada di rumahnya sekarang.

"Aduh, Anin, duduk, duduk. Tanta buatkan teh, ya," ucapnya seraya berjalan dengan cepat ke dapur.

Sebelum Anindia bisa menolak, ayah Maya berbicara kepadanya, "Anindia kabar bagaimana? Sehat-sehat? Anindia di sekolah belajar apa? Terus, Anindia mau cemilan? Om ada banyak."

Semua pertanyaan ini mengherankan Anindia. 

'Ayah Maya bukanlah orang yang suka berbicara. Ada apa dengannya hari ini? Tidak. Ada apa dengan kedua orang tua Maya hari ini?'

"Ah, kabar Anin baik. Kalau Om?" jawab Anindia dengan singkat. 

Sepertinya, jawaban singkat ini tidak memuaskan ayah Maya. 

"Om baik juga, tapi ini tanya tentang Anindia, sonde usah tanya Om, e. Oh iya, jangan malu ambil cemilan di sini, enak semua. Anindia di sekolah bagaimana? Seru?"

"Oh, Anin di sekolah biasa-biasa saja Om. Hanya kurang seru sejak Maya pindah. Sebenarnya Anin datang ke sini mau main dengan Maya, Om. Dia ada di kamarnya? Anin ada bawa kembali Maya punya boneka gajah," katanya sambil menunjukkan boneka di tangannya.

Sebelum ayah Maya bisa menjawab, ibu Maya datang dengan dua cangkir teh di atas meja. "Ini, Nak. Minumlah." katanya.

"Terima kasih Tanta... Tanta sonde usah repot-repot. Anin hanya datang untuk bermain dengan Maya," kata Anindia tersenyum.

Anindia yang mengira orang tua Maya akan memberitahukan keberadaannya Maya bingung karena orang tua Maya hanya terdiam. Wajah mereka terlihat sendu. 

'Ada apa?' pikirnya.

***

Tubuhnya ditutupi selimut tebal. Badannya meringkuk membentuk bola. Matanya tertutup rapat, air mata deras berjatuhan. Suara tangisan lembut keluar dari mulutnya. Pikirannya kembali berputar. Kepalanya pusing mengingat kembali apa yang terjadi. 

~ Tiga jam yang lalu ~

"Maya sudah sonde ada lagi, Nak. Dia sudah tiada satu minggu yang lalu," kata ayah Maya.

Anindia cekikikan, mengira ayah Maya membuat lelucon. 

'Hahaha, aku kan semalam barusan bercerita dengan Maya lewat HP. Tidak mungkin Maya sudah tak ada lagi, apa lagi seminggu yang lalu. Ayah Maya hari ini beda ya, hahaha...' 

Hanya tawa Anindia yang terdengar. Selain itu, semuanya sangat hening. Wajah orang tua Maya yang serius menambah rasa tegang dan syok yang cepat merambat ke seluruh rumah dan menghentikan gelak Anindia. 

'Tidak, tak mungkin. Aku tidak percaya. Bagaimana bisa? Kalau ini lelucon, sama sekali tidak lucu,' Anindia kembali merasa pusing.

Di tengah ketidak-percayaannya, Anindia mendengar suara tangisan lembut ibu Maya yang semakin lama semakin kecil. Ia merasakan tangan yang membelai punggungnya semakin lama semakin tak terasa. Ia tak mengenali tempat yang ia berada. Ia hilang kendali dari tubuhnya. Mukanya pucat. Semuanya gelap. 

~ Kembali ke saat ini ~

Anindia terbangun dalam ruangan yang amat sangat tidak asing baginya. Ia berbaring di ruang tidur Maya. Ia melihat sekitar, ia mencium aroma temannya. Kesadaran mulai datang kembali pada pikiran Anindia. Dengan sekejap Anindia terbangun dan mencari sosok Maya. 

"Maya?" panggilnya. 

Anindia berjalan dengan pelan, coba mencari tanda-tanda keberadaan sahabatnya. 

"Anin?" 

Kepala Anindia berputar pada sumber suara itu. Suaranya sangat ia kenal. 'Bisakah itu...'

"Maya!" Anindia ujar dengan gembira, berlari untuk memeluk temannya. 

- BUK! -

Anindia menabrak pintu ruang tidur Maya. Anindia mengerang tetapi hanya sebentar saja setelah ia memproses apa yang barusan terjadi. Ia melihat ke sampingnya. Maya masih menatap Anindia dengan senyum. 

"Anin! Yuk, main!" aju Maya.

"Maya..." kata Anindia dengan ketakutan. 'Tidak. Tidak mungkin!'

Anindia melempar tangannya menembus sosok Maya itu. Kemudian kakinya. Anindia berjalan melewati Maya, Anindia menembusnya. 

"A- apa yang sedang terjadi? Bagaimana bisa? Ada apa denganku?" tanya Anindia, berharap temannya mengetahui semua jawaban. 

Anindia menunggu. Namun, tak ada suara yang terdengar. Anindia menoleh ke belakangnya hanya untuk mendapati sosok Maya yang entah hilang ke mana. 'Tidak, tidak, tidak.'

"Maya!" panggilnya sekali lagi. Namun, tak mendapat respons. 

Anindia berlutut, kepalanya tunduk, ditarik kedua tangannya. Ia ingin teriak. Ia ingin menangis. Ia merindukan rasa bahagia. Ia merindukan Maya.

"Anin jangan menangis," kata Maya.

"Maya! Maya di mana?" teriak Anindia, penuh amarah dan kesedihan.

"Maya sudah meninggal, Anin. Sejak tujuh hari yang lalu. Bukankah Anin ingat?" balas temannya. 

Benar... Benarkah?

"Bukankah Anin yang datang berlari ke rumah sakit saat mendengar berita bahwa Maya sudah tiada?" lanjut Maya.

"Sejak hari itu Anin merasa bersalah, tapi itu sonde benar. Maya yang sonde pernah beritahu Anin tentang penyakit Maya. Bukan karena Maya sonde percaya Anin, tapi karena Anin sudah punya banyak masalah, jadi Maya sonde mau buat Anin makin susah. Maya minta maaf e... Segala sesuatu bukan salah Anin. Orang tua Anin yang berkelahi semalam bukan karena Anin. Ini semua karena Maya. Karena Maya yang sakit dan Maya sonde mau beritahu, Anin jadi stres dan mulai berhalusinasi. Itu topik pertengkaran mereka semalam. Mental Anin yang semakin memburuk sampai Anin mulai berhalusinasi tentang Maya. Semua pesan yang Anin kirim ke Maya semalam juga sonde pernah Maya baca. HP Maya di atas meja penuh dengan notifikasi baru dari Anin. Itu semua halusinasi Anin," jelasnya. “Maya sudah tiada, Anin. Kamu sudah bisa percaya, kan? Maya ingat, saat Anin tiba di rumah sakit dan melihat tubuh Maya Anin sangat sonde percaya, tapi sonde apa-apa. Kan bukan salahnya Anin. Pasti pikiran Anin waktu itu, ‘Bagaimana bisa Anin sonde bantu Maya sedangkan Maya selalu bantu Anin’ kan? Memang, tapi Maya senang buat Anin senang. Jadi jangan khawatir.”

"Oh, iya. Boneka itu Maya bermaksud untuk hadiahkan kepada Anin, tapi sonde sempat. Anin tahu sonde, kenapa Maya pilih gajah?"

Pertanyaan Maya tidak dibalas. Anindia terlalu syok untuk memproses semua yang barusan ia katakan. 
Benar, Anindia berlari ke rumah sakit saat semua sudah terlambat. Benar, HP Maya penuh dengan notifikasi baru darinya. Benar, Anindia merasa sangat bersalah. Benar... Benarkah Anindia berhalusinasi? Benarkah Anindia tidak bersalah? Suara Maya mulai bergema, tak terlalu jelas lagi. Anindia mulai pusing, dunianya terputar, jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. 

‘Aku tidak bisa hidup tanpa Maya. Dia yang selalu mengatakan aku tidak bersalah. Dia yang selalu membantuku dalam kegelisahanku. Aku tidak bisa hidup tanpa Maya!’ pikirnya. 

Anindia berkeringat banyak. Mukanya pucat, pernapasannya tak beratur, kulitnya dingin.

‘Gajah artinya kenangan, jadi pikirlah tentang Maya setiap kali Anin lihat boneka ini,’ kalimat yang merupakan suara terakhir yang Anindia dengar. Suara temannya yang juga sudah tiada.

Di tangan Anindia terekat boneka gajah seraya ia mengambil napas terakhirnya di dunia. 
 








Catatan: 
berdasarkan hasil research :) 
Nama: Anindia: yang tidak bersalah (bahasa sansekerta)
Maya: ilusi (bahasa sansekerta)

Binatang: 
Gajah: kenangan 
_______________________ 
Bahasa Kupang: 
Sonde/son: tidak 
Lu: kamu 
Tu: itu 
Beta: saya 
Ko: kata untuk memberitahu bahwa kalimat tsb. merupakan pertanyaan 
Sa: saja 
Bacarita: bercerita

Comments

Popular posts from this blog

Rencana-Nya Dikara

Lompat Jauh Berbahaya: Benar atau Salah?